Kagumi Laut Lembata, WNA Italia Soroti Ancaman Sampah

(WNA Asal Italia bersama para siswa/i sedang memungut sampah di Pantai Kolontobo)

Lembata – Keindahan bawah laut Kabupaten Lembata mendapat apresiasi dari warga negara asing (WNA) asal Italia, Andrea, yang bersama rekannya Francesca terlibat dalam program konservasi laut bersama LSM BARAKAT. Namun di balik kekayaan ekosistem laut tersebut, persoalan sampah menjadi ancaman serius yang memprihatinkan.

Andrea menjelaskan bahwa kehadirannya di Lembata bertujuan untuk membantu LSM BARAKAT dalam mendokumentasikan kondisi bawah laut di sejumlah desa, khususnya di wilayah Muro. Dari hasil penyelaman, mereka menemukan terumbu karang, padang lamun, dan berbagai jenis ikan yang masih terjaga dengan baik.

“Setelah berkeliling di beberapa desa, Lembata menjadi salah satu tempat terbaik dibandingkan Italia dan Eropa pada umumnya. Bahkan ada spesies yang tidak kami temukan di Filipina, tetapi ada di sini,” ujar Andrea.

Namun, ia mengungkapkan keprihatinan mendalam terhadap kondisi sampah laut. Saat melakukan penyelaman, Andrea dan Francesca menemukan banyak sampah, baik di dasar laut maupun di pesisir pantai.

“Kami sangat prihatin. Kami khawatir kondisi ini akan merusak ekosistem laut di masa depan,” katanya.

Direktur BARAKAT Lembata, Benediktus Bedil, menegaskan bahwa persoalan sampah laut sudah berada pada tahap yang mengkhawatirkan. Ia menyebut laut saat ini telah dipenuhi mikroplastik yang berbahaya bagi kesehatan manusia.

“Ikan memakan mikroplastik, lalu manusia mengonsumsi ikan tersebut. Tanpa disadari, mikroplastik masuk ke dalam tubuh kita dan mengganggu kesehatan. Perilaku membuang sampah sembarangan akan menjadi bumerang bagi kita dan generasi mendatang,” jelas Benediktus.

(Direktur Barakat sedang memungut sampah di Pantai Kolontobo)

Ia menambahkan, kegiatan pemungutan sampah yang dilakukan merupakan wujud kepedulian atas keprihatinan yang disampaikan oleh kedua WNA tersebut, sekaligus sebagai upaya penyadartahuan kepada masyarakat akan pentingnya menjaga laut dan lingkungan.

Senada dengan itu, Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (F-PRB) Lembata, Mikhael Alexander A. Raring, menyampaikan bahwa persoalan sampah menjadi perhatian serius baik pemerintah maupun masyarakat. Ia mencontohkan kondisi Teluk Lewoleba yang tingkat pencemarannya cukup tinggi.

“Pada Oktober 2025, Forum PRB menginisiasi aksi pungut sampah di Teluk Lewoleba dan berhasil mengumpulkan 4 ton sampah hanya dalam waktu dua jam. Ini menunjukkan betapa besarnya persoalan sampah di wilayah tersebut,” ungkapnya.

Menurut Acan, Teluk Lewoleba sejatinya menyimpan kekayaan alam yang besar, namun kini tercemar akibat sampah. Ia berharap kegiatan serupa dapat membangkitkan kesadaran bersama untuk menjaga laut dan lingkungan.

Kegiatan pemungutan sampah ini melibatkan berbagai organisasi, komunitas, dan unsur pemerintah, antara lain Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Lingkungan Hidup, Koalisi Kopi Lembata, Yayasan Bank Sampah, OMK Paroki Kristus Raja Wangatoa, SMPN 1 Ile Ape, Pemerintah Desa Kolontobo, serta BARAKAT Lembata. Sekitar 200 peserta terlibat dalam kegiatan yang dipusatkan di sepanjang Pantai Epo Wewa Belen, Desa Kolontobo pada Selasa, 20 Januari 2026. (BFH)

Klik untuk Berbagi

Related Posts